468x60 Ads

TANDA-TANDA MENOPAUSE

MENOPAUSE

Seorang wanita disebut memasuki atau mengalami menopause bila yang bersangkutan tidak menstruasi lagi dalam rentang waktu 12 bulan. Usia saat seorang wanita memasuki menopause masih menjadi perdebatan sengit, tapi sebagai pegangan beberapa ahli di bidang menopause memberi ancer ancer umur antara 45 sampai 55 tahun.
Lalu apa yang terjadi saat wanita memasuki masa menopause? Untuk diketahui, gejala dan tanda menopause yang dialami seorang wanita sifatnya sangat individual. Bagi wanita yang tahan banting, mereka tidak akan terlalu merasakan gejala saat memasuki masa menopause, sebaliknya yang agak ‘perasa’ akan merasakan keluhan hebat baik fisik maupun mental. Beberapa tanda dan gejala tersebut antara lain :
Perdarahan
Perdarahan disini adalah perdarahan yang keluar dari vagina. Tidak seperti menstruasi yang datangnya teratur, perdarahan yang terjadi pada wanita menopause tidak teratur. Gejala ini terutama muncul pada saat permulaan menopause. Perdarahan akan muncul beberapa kali dalam rentang beberapa bulan untuk kemudian berhenti sama sekali. Karena munculnya pada masa awal menopause, gejala ini sering disebut gejala peralihan.
Rasa panas dan keringat malam
Rasa panas sering dialami wanita yang memasuki masa menopause. Perasaan ini sering dirasakan mulai dari wajah menyebar ke seluruh tubuh. Rasa panas ini sering disertai dengan warna kemerahan pada kulit dan berkeringat. Perasaan ini sering terjadi selama 30 detik sampai dengan beberapa menit. Meskipun penjelasan tentang fenomena ini belum diketahui dengan pasti namun diduga terjadi akibat dari fluktuasi hormon estrogen. Seperti diketahui, pada saat menopause, kadar hormon estrogen dalam darah akan anjlok secara tajam sehingga berpengaruh terhadap beberapa fungsi tubuh yang dikendalikan oleh hormon ini.
Sampai saat ini belum ditemukan metode untuk memperkirakan pada usia berapa penomena ini akan muncul dan kapan akan berakhir. Rasa panas ini bahkan sudah terjadi sebelum seorang wanita memasuki masa menopause. Gejala ini akan menghilang dalam 5 tahun pada sekitar 80% wanita, sisanya akan terus mengalaminya sampai dengan 10 tahun.
Sialnya, disamping rasa panas dan kemerahan, penderitaan wanita yang sedang menopause juga ditambah dengan keringatan di malam hari. Gejala ini tentu akan menganggu tidur yang menyebabkan wanita yang mengalaminya akan selalu kurang tidur.
Gejala pada vagina
Gejala pada vagina muncul akibat dari perubahan yang terjadi pada lapisan dinding vagina. Vagina menjadi kering dan kurang elastis akibat dari penurunan kadar estrogen. Selain itu muncul pula rasa gatal pada vagina dan yang lebih parah adalah rasa sakit saat berhubungan seksual. Perubahan pada vagina ini juga mengakibatkan wanita menopause rentan terhadap infeksi vagina.
Gejala perkemihan
Perubahan yang terjadi pada lapisan vagina juga terjadi pada saluran urethra. Urethra adalah saluran yang menyalurkan air seni dari kandung kemih ke luar tubuh. Saluran urethra juga akan mengering, menipis dan berkurang keelastisannya akibat dari penurunan kadar estrogen. Perubahan ini akan menyebabkan wanita menopause rentan terkena infeksi saluran kencing, selalu ingin kencing dan ngompol.
Gejala emosional dan kognitif
Wanita yang akan memasuki masa menopause sering mengalami gejala emosional dan kognitif yang bervariasi. Gejala ini antara lain, kelelahan mental, masalah daya ingat, lekas marah, dan perubahan mood yang berlangsung cepat. Sangat sulit untuk mengetahui gejala yang manakah yang dipengaruhi oleh perubahan hormon. Perubahan emosional ini terkadang tidak disadari oleh wanita yang sedang menopause sehingga perlu pendekatan khusus untuk masalah ini. Pendekatan ini untuk meyakinkan wanita tersebut atas apa yang sedang diderita. Keringat dingin yang muncul juga memberi kesan kelelahan fisik akibat dari kurang tidur.
Perubahan fisik yang lain
Perubahan fisik lainnya antara lain perubahan distribusi lemak tubuh yang mana pada wanita menopause lemak akan menumpuk pada pinggul dan perut. Perubahan tekstur kulit, kerutan kulit, dan terkadang disertai dengan jerawat.
Setelah sekian lama membahas tubuh manusia yang segar segar, tidak apa khan sekali sekali membahas yang sudah uzur. Kita tidak bisa menutup mata, kelak kita pasti akan mengalaminya.
Menopause kini jadi perhatian. Padahal, semula isu tentang menopause kurang mendapat perhatian dari semua pihak, termasuk kaum hawa. Hal ini disebabkan umur harapan hidup perempuan di dunia makin panjang. Pada tahun 2030, jumlah perempuan di dunia yang memasuki masa menopause diperkirakan mencapai 1,2 miliar orang.
Saat ini Indonesia baru mempunyai 14 juta perempuan menopause. Namun, menurut proyeksi penduduk Indonesia tahun 1995-2005 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk perempuan berusia di atas 50 tahun adalah 15,9 juta orang. Bahkan, pada tahun 2025 diperkirakan akan ada 60 juta perempuan menopause. Menopause sesungguhnya merupakan hal yang secara alamiah akan dialami tiap perempuan. Menurut National Institutes of Health, Amerika Serikat, menopause merupakan tahap akhir proses biologi yang dialami wanita berupa penurunan produksi hormon seks perempuan, yakni estrogen dan progesteron dari indung telur. Seseorang disebut menopause jika tidak lagi menstruasi selama 12 bulan atau setahun. Hal ini umumnya terjadi ketika perempuan memasuki usia 48 hingga 52 tahun. Sebagaimana permulaan haid, akhir menstruasi juga bervariasi antara perempuan yang satu dan lainnya.
Perokok cenderung mencapai menopause lebih cepat daripada perempuan bukan perokok. Menstruasi akan terhenti lantaran fungsi indung telur mulai menurun. Setelah menopause, indung telur tetap memproduksi estrogen, tetapi dalam jumlah sangat kecil. Karena indung telur merupakan pabrik penghasil sel telur, penurunan fungsinya diikuti berakhirnya pelepasan sel telur yang terjadi tiap bulan pada wanita usia subur. Seiring berkurangnya estrogen dan progesteron, terjadi berbagai perubahan secara fisik maupun psikis. Kulit mulai mengering, elastisitas otot berkurang, termasuk dinding vagina mulai menipis dan mengering, sehingga rentan terkena infeksi. Kekurangan estrogen juga menyebabkan tulang jadi tipis dan mudah patah (osteoporosis). Penurunan estrogen menurunkan pula kadar lemak densitas tinggi, yaitu kolesterol baik, yang berfungsi membersihkan pembuluh darah dari timbunan kolesterol buruk. Sebaliknya, kadar kolesterol buruk dan total kolesterol meningkat sehingga mempertinggi risiko stroke dan serangan jantung.
“Perempuan menopause terancam osteoporosis, jantung koroner, kanker usus besar,” kata Frizar Irmansyah, dokter spesialis kandungan. Perubahan fisik yang terasa dan menimbulkan rasa tidak nyaman adalah semburan panas dari dada ke atas diikuti banyak berkeringat. Keluhan lain yang terasa adalah nyeri saat berhubungan intim, jantung berdebar-debar, susah tidur, sulit menahan kencing, dan sakit kepala. Juga pegal-pegal, merasa tertekan, lelah psikis, lelah somatik, susah tidur, merasa takut, pelupa, merasa tidak dicintai, dan depresi. Tidak semua perempuan mengalami gejala menopause yang sama. Menurut Ichramsjah, guru besar pada Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, gejala yang dialami hampir setiap perempuan adalah gelisah, takut, pelupa, pemarah, nyeri tulang belakang, dan libido menurun. Adapun gejala yang tidak selalu dialami perempuan adalah semburan panas.
Terapi menopause
Untuk menghindari terjadi komplikasi penyakit, hal ini perlu diantisipasi sejak perempuan berusia 45 tahun. Sayangnya, banyak perempuan tidak menyadari dirinya menopause lantaran tidak memiliki cukup informasi. Akhirnya mereka mengobatinya secara simtomatis untuk menghilangkan gangguan yang dirasakan. Mereka kemudian minum obat sakit kepala karena merasa pusing. Padahal, meminum berbagai obat simtomatis memiliki efek samping ke ginjal. Karena penyebab utamanya adalah kekurangan estrogen, penyembuhan paling tepat adalah menambahkan hormon estrogen dari luar ke dalam tubuh.
Ada dua jenis estrogen dari luar tubuh yang bisa dipakai, yakni hormon estrogen yang berasal dari tumbuhan (fitoestrogen) dan hormon yang dibuat pabrik. Salah satu cara yang ditawarkan dunia kedokteran adalah terapi sulih hormon (TSH). Terapi ini mempunyai efek signifikan terhadap perempuan menopause. Setelah minum hormon, pasien akan merasa sehat dan nyaman, berbagai keluhan hilang, perempuan juga bisa kembali mendapatkan menstruasi, tidak lagi merasakan jantung berdebar-debar, pusing, atau merasa pegal-pegal. Namun, dalam perkembangannya, ternyata TSH berisiko menimbulkan kanker payudara, terutama pada pasien yang memiliki sejarah kanker dalam keluarganya. Risiko ini tidak terjadi pada tiap orang. “Untuk itu, pemakaian terapi ini sebaiknya benar-benar di bawah pengawasan dokter dan tidak disarankan bagi pasien dengan sejarah kanker. Bagi pasien tanpa sejarah kanker, bisa melakukan uji laboratorium setiap tahun,” kata Frizar. Bagi pasien yang tidak ingin mengikuti TSH, Frizar menyarankan mengonsumsi fitoestrogen yang banyak terdapat pada makanan Indonesia. Sumber estrogen berasal dari tumbuhan seperti bengkuang, kacang kedelai, pepaya, lidah buaya, dan semanggi. “Walaupun kekuatannya lemah jika dibandingkan TSH, namun fitoestrogen bermanfaat untuk mengurangi keluhan menopause karena cukup aman dan mudah didapat,” tuturnya.
Pengelolaan diri perempuan menopause juga sangat penting untuk memaksimalkan kerja obat-obatan yang dikonsumsi. Motivasi diri ini harus timbul dalam diri pasien dan dapat ditempuh dengan cara berdoa, meditasi kesehatan, yoga, dan memakai metode hipnosis atau hipnoterapi. “Perempuan menopause dapat menjalani hipno-menopause terapi,” kata Stephanus P Nurdin, dokter dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Jaya. Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien ini bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dirinya sendiri. “Pasien jadi merasa lebih nyaman dan dapat menerima kondisinya, lebih percaya diri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya. Dengan penerapan gaya hidup sehat dan terapi yang efektif, secara perlahan rasa kepercayaan yang hilang atau gejala lain yang dirasa mengganggu pun dapat diatasi. Akhirnya, kita pun bisa menjalani hidup menjelang maupun selama menopause.
Rasa gelisah, takut, kurang percaya diri-pada orang yang semula tenang dan penuh percaya diri-tidak selalu berarti gangguan jiwa. Keluhan pusing, berkeringat banyak, dada berdebar-debar, juga belum tentu gangguan kardiovaskular.

Bisa jadi semua itu pertanda kekurangan hormon estrogen. Apalagi jika terjadi pada wanita berusia sekitar 40 tahun. Di negara maju keluhan itu diatasi dengan terapi hormon. Masalah ini mengemuka dalam jumpa pers Perkumpulan Menopause Indonesia (Permi) menjelang Kongres I Menopause Andropause Indonesia, Senin (10/9) lalu.

Menurut Ketua Panitia Kongres Dr dr Ichramsjah A Rachman SpOG KFer dari Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), kongres akan berlangsung Sabtu-Minggu pekan ini. Temanya, "Peningkatan Kualitas Manusia Menopause-Andropause Indonesia pada Era Milenium III".

Menurut dr med Ali Baziad SpOG KFer yang juga dari FKUI-RSCM, pada wanita menopause banyak timbul keluhan akibat kekurangan hormon estrogen. Keluhan itu seperti berdebar-debar, berkeringat banyak, pusing, gelisah, diserang perasaan takut, kurang percaya diri, cemburu berlebihan, sakit saat berhubungan dengan suami, gairah seksual menurun, mata kering, kerongkongan kering, serta nyeri tulang dan otot.

Dalam jangka lima sampai 10 tahun setelah menopause, timbul masalah seperti osteoporosis (tulang rapuh), penyakit jantung koroner, demensia (linglung atau pikun) misalnya Alzheimer, stroke serta inkontinensia urin (mudah mengompol).

Dianggap alami

Masalahnya, kebanyakan kaum wanita menganggap menopause merupakan sesuatu yang wajar. Keluhan yang timbul dianggap sebagai proses alami dan tidak merasa perlu diobati.

"Tidak jarang para suami, yang melihat perubahan yang terjadi pada istri, yang justru datang ke dokter untuk berkonsultasi. Ada kasus wanita eksekutif yang menjadi kacau, mudah marah, pelupa, dan membuat sejumlah keputusan yang salah. Hal ini membuat lingkungan bekerja dan keluarga menjadi serba salah," tutur Ali.

"Kasus lain, seorang wanita mengalami depresi berat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, para wanita itu mengalami kekurangan hormon estrogen. Setelah diberi hormon pengganti, kondisi mereka membaik," tambahnya.

Banyak orang khawatir menggunakan hormon karena takut kena kanker payudara. Mereka lebih berani menggunakan obat-obatan seperti anti nyeri, obat tidur, obat rematik, atau obat jantung selama bertahun-tahun tanpa takut terhadap efek samping.

"Padahal, terapi hormon sangat banyak manfaatnya. Yang paling jelas, mengatasi depresi. Selain itu, meningkatkan kualitas hidup, bisa melakukan hubungan suami-istri tanpa rasa sakit, mempertahankan kekenyalan otot, kulit tidak keriput, serta mengatasi masalah inkontinensia," ujar Ali.

Sejauh ini di Indonesia belum ada kasus kanker payudara akibat terapi hormon. Kasus kanker payudara yang ada bukan akibat terapi estrogen. Untuk mengantisipasi, dianjurkan mamografi setiap dua tahun sekali.

Ichramsjah menambahkan, sebelum terapi, pasien akan diperiksa kesehatannya, termasuk deteksi dini kanker mulut rahim dan payudara dengan Pap-smear dan mamografi. Untuk mencegah kejadian tumor atau kanker, kini digunakan gabungan hormon (estrogen-progesteron) dalam dosis rendah. Cara pemberian hormon bermacam-macam. Yang dianjurkan adalah koyok, tablet, atau krim. Sedang suntik dan implant merupakan pilihan terakhir.
PREMENOPAUSE
PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan perkembangan setiap manusia sepanjang hidup dan kehidupan akan mengalami berbagai perubahan hingga pada masa penuaan terutama pada wanita, mereka akan mengalami perubahan fisiologis pada masa reproduksi sampai pada masa yang disebut klimakterium, pada masa ini wanita akan mengalami proses premenopause atau masa senium (Levina, 1996). Proses menuju menopause ketika fungsi sistim reproduksi mulai mengalami perubahan, mereka akan merasakan berbagai gejala akibat perubahan itu.
Sebelum haid berhenti, biasanya wanita akan mengalami masa peralihan yang disebut masa premenopause yang berlangsung bervariasi antara 2 sampai 6 tahun, umumnya wanita Indonesia mengalami menopause pada usia 45-55 tahun dengan berbagai factor yang mempengaruhi antara lain factor gizi, beban pekerjaan dan riwayat penyakit lainnya.
Masa premenopause dengan berbagai perubahan fisiologis yang terjadi akan menjadi momok atau rasa ketakutan bagi setiap wanita yang akan menjalaninya, kendati hal ini alamiah terjadi pada semua wanita, namun efek sampingnya banyak mempengaruhi keharmonisan rumah tangga bila tidak siap menghadapinya. Perubahan fisik dimana terdapat keriput, buah dada menjadi lembek, darah haid menjadi banyak atau sedikit sekali dan perubahan psikologis lainnya akan terjadi pada masa premenopause.
Premenopause adalah suatu kondisi fisiologis wanita yang telah memasuki masa penuaan (aging) yang ditandai dengan menurunnya kadar hormonal estrogen ovarium yang sangat berperan dalam reproduksi seksualitas, sering mengganggu aktifitas wanita bahkan mengancam kebahagiaan berumah tangga. Gejala tersebut sebagai sindrom menopause yang meliputi Hot Fluses (semburan panas dari dada hingga wajah), night sweat (keringat di malam hari), dryness vaginal (kekeringan vagina), penurunan daya ingat, insomnia (susah tidur), depresi, mudah lelah, penurunan libido, rasa sakit jika berhubungan seks.
Gejala premenopause, untuk sebagaian wanita belum mengerti bahkan tidak mengetahui kalau mereka berada pada masa ini. Hal ini disebabkan karena mereka belum memahami dan kurangnya pengetahuan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada wanita menjelang masa menopause. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa ibu tentang perubahan yang terjadi pada masa menopause menunjukkan atas ketidak pahaman dan kurangnya pengetahuan. Jawaban yang diterima adalah mereka sering sakit kepala, banyak darah yang keluar pada saat haid membuat mereka takut, cemas dan berprasangka kalau mereka sakit kanker kandungan.
Berlatarbelakangi masalah tersebut maka penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang Pengetahuan ibu terhadap perubahan pada masa premenopause.
Konsep Dasar Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (1993), pengetahuan adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Brieger (1992) mengemukakan bahwa pengetahuan umumnya datang dari pengalaman yang dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, keluarga, teman, buku, surat kabar dan majalah. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah proses untuk mengetahui sesuatu yang dilakukan oleh manusia berdasarkan pengalaman, perasaan, pola fikirnya terhadap objek tertentu.
Menurut Notoatmojo (1993), pengetahuan itu diperoleh dari berbagai hal, antara lain : Pengalaman yang merupakan keseluruhan peristiwa perjumpaan dan apa yang telah terjadi pada manusia dalam berinteraksi dengan alam, diri sendiri, lingkungan social dan dengan seluruh kenyataan termasuk Tuhan Yang Maha Esa. Pengalaman akan berkaitan erat dengan ingatan dan kesaksian karena ingatan mengandalkan pengalaman sebagai sumber dan dasar rujukannya.
Tentunya semua itu didasari oleh minat atau rasa ingin tahu dan kebutuhan manusia. Minat mengarahkan perhatian terhadap hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Orang akan meminati apa yang ia pandang bernilai, sedangkan rasa ingin tahu mendorong orang untuk bertanya dan melakukan penyelidikan atas apa yang dialami. Kebutuhan hidup manusia juga akan mendorong berkembangnya pengetahuan manusia untuk melakukan interaksi dengan dunia dan lingkungan sosial di sekitarnya.
Agar dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialami, keinginan dan kebutuhan manusia itu perlu melakukan kegiatan berfikir . kegiatan pokok fikiran dalam mencari pengetahuan adalah penalaran yang dituangkan dalam bentuk bahasa sehingga manusia mampu untuk mengembangkan pengetahuan berkat kemampuan tersebut.
Premenopause
Kata “Menopause” terdiri dari dua kata yang berasal dari kata Yunani yang berarti “Bulan” dan “Penghentian sementara” yang lebih tepat disebut dengan “Monocease”. Secara medis istilah menopause berarti “monocease” karena berdasarkan defenisinya maka menopause itu berarti berhentinya masa menstruasi (Reitz, 1993).
Premenopause adalah kondisi fisiologis pada wanita yang telah memasuki proses penuaan (eging) yang ditandai dengan menurunnya kadar hormon estrogen ovarium yang sangat berperan dalam hal sexualitas. Premenopause sering menimpa wanita yang berusia menjelang 40 tahun ke atas. Menurut Depkes RI (1993) dan Levina (2002), Menopause adalah perdarahan terakhir dari uterus yang masih dipengaruhi oleh hormone dari otak dan sel telur.
Wanita yang mendekati menopause, produksi hormone ekstrogen, hormon progesterone dan hormone seks lainnya mulai menurun. Keadaan ini menyebabkan jarang terjadi ovulasi dan menstruasi tidak teratur, sedikit dengan jarak yang panjang. Menopause berhubungan dengan perubahan hormonal sehingga wanita mengalami perubahan status fisik dan emosional.
Ketika terjadi menopause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda pada tiap orang, meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa gejala-gejala premenopause merupakan suatu gejala yang biasa disebut sindrom menopause yang meliputi; ketidak teraturan siklus haid, gejolak panas (Hot Flushes), keringat di malam hari (night sweat), kekeringan vagina (dryness vaginal), penurunan daya ingat, kurang tidur (insomnia), rasa cemas (depresi).
Kematangan mental, kedewasaan berfikir, faktor ekonomi, budaya dan wawasan mengenai menopause akan menentukan berat ringannya seseorang menghadapi kekuatiran saat memasuki masa menopause. Bila seorang perempuan tidak siap mental menghadapi periode klimakterium atau fase menjelang menopause dan lingkungan psikososial tidak memberikan dukungan positif akan berakibat tidak baik. Perempuan itu akan menjadi kurang percaya diri, merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, stress dan kuatir berkepanjangan tentang perubahan fisiknya, misalnya khawatir fisiknya tidak seindah dan sesehat ketika muda.
Untuk mengatasi gejala-gejala premenopause dan menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran pada saat memasuki masa premenopause dan menopause adalah dengan kenali gejala-gejalanya dan diatasi dengan bijak, antara lain; Pada umumnya wanita mengalami gejala haid tidak teratur, ketidakteraturan ini disebabkan oleh keadaan hormone yang tidak seimbang yang dapat berupa siklus haid yang lebih pendek, jarak haid yang tidak teratur atau perdarahan yang banyak yang perlu diwaspadai karena ada kemungkinan merupakan pertanda adanya suatu yang tidak beres pada tubuh, misalnya adanya tumor, kanker atau jaringan fibroid yang sering muncul menjelang menopause. Segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan tidak adanya kelainan.
Munculnya gejala hot flushes dan berkeringat di malam hari dapat ditangani dengan menjalani hidup sehat dan bebas stress. Hidup sehat dengan makan, minum, istirahat dan olah raga yang cukup dan teratur. Bebas stress dilakukan dengan menjalani hidup penuh dengan ketenangan.
Saat kadar estrogen menurun, maka elastisitas vagina berkurang dan mongering. Melakukan hubungan seks pun menjadi tidak nyaman, dan vagina mudah terluka dan iritasi. Untuk mengatasinya bukan berarti wanita sudah tidak dapat lagi berhubungan seks, justru melakukan hubungan seks dengan frekuensi yang cukup dapat menghilangkan ketidaknyamanan. Misalnya; menggunakan jeli saat berhubungan. Hindari pemakaian parfum, tissue, pembalut, sabun tertentu yang akan menambah kekeringan vagina.
Menjalani hidup sehat dengan cara mengkonsumsi makanan, minuman yang sehat, olah raga teratur serta istirahat yang cukup merupakan modal bagi masa menopause yang menyenangkan, perubahan premenopause akan lebih cepat atau lambat dialami setiap orang tidak akan mengalami kecemasan jika melaksanakan pola hidup sehat dan mengetahui perubahan yang akan terjadi bagi seseorang yang mau menjalani pre dan post menopause.
METODE
Rancangan / design penelitian ini adalah penelitian deskriptif dimana peneliti mendiskripsikan pengetahuan ibu tentang masa premenopause dan perubahan fisiologis yang terjadi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu-ibu yang berusia lebih dari 40 tahun di wilayah RT 03 RW 02 Kelurahan Benteng-Ambon. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang berusia 40 tahun yang telah memasuki masa premenopause dengan gejala-gejala ketidakaturan haid dan Hot Flushes dengan kriteria; Inklusi yaitu ibu yang berusia 40 tahun ke atas dan bersedia menjadi responden dan Eksklusi yaitu semua ibu yang berusia 40 tahun tetapi masih lancar haid. Dengan demikian ada 15 orang ibu yang masih lancar haid dan 5 lainnya tidak bersedia menjadi responden, jumlah keselurahan sample dalam penelitian ini adalah 20 orang. Variable independent adalah pengetahuan tentang masa premenopause mengenai pengertian, gejala-gejala dan cara penanggulangan. Variable dependen adalah ibu usia 40 tahun ke atas.
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diperoleh dari jawaban ibu terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tertera dalam kuesioner. Teknik pengumpulan dan analisa data yang dapat digunakan adalah transformasi data mentah berupa angka, selanjutnya ditafsirkandalam bentuk kualitatif dan disajikan dalam bentuk table dan persen dengan langkah-langkah sebagai berikut: Memeriksa kelengkapan jawaban, mengelompokkan jawaban responden dari tiap item, melakukan pengolahan data dengan memberikan skor tiap-tiap jawaban, jawaban benar diberi skor 1 atau nilai 1 dan jawaban salah diberi 0, menjumlahkan skor, menghitung nilai rata-rata (x) dari jawaban yang benar dengan menggunakan rumus :
___
X = ∑ x
‾‾‾‾‾‾‾‾
N
Menghitung atau menetapkan standar deviasi (SD) dengan rumus :
____________
SD = √ ∑ (X – X ) ²
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
N – 1
Keterangan :
___
X : Nilai rata-rata jawaban yang benar
∑ x : Jumlah seluruh jawaban yang benar
N : Jumlah sample / responden
SD : Standar Deviasi
Menetapkan tiap variable untuk mengetahui tingkat pengetahuan berdasarkan kemampuan dalam menjawab kuesioner responden yang dinilai berdasarkan rangking secara objektif dengan urutan sebagai berikut :
Cukup = > X + ½ SD
Kurang = < X + ½ SD
Data disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi, selanjutnya akan dianalisis secara deskriptif dan mengambil kesimpulan dari keseluruhan data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengumpulan data yang dilakukan dari tanggal 26 Juni – 1 Juli 2006 dapat dilihat pada table 1,2,3,4 dan 5 berikut ini :

TABEL 1
DEFENISI OPERASIONAL MASING-MASING VARIABEL
Variabel / Sub Variabel Defenisi Operasional Kategori Skala
Pengertian dan pengetahuan tentang premenopause Pengertian premenopause adalah kondisi dimana wanita mengalami gangguan siklus haid/tidak mendapat haid Benar = 1
Salah = 0 Nominal
Gejala-gejala premenopause Gejala-gejala premenopause adalah ketidakaturan siklus haid, rasa panas dan berkeringat di malam hari, kurang tidur, vagina menjadi kering, depresi dan penurunan daya ingat Benar = 1
Salah = 0 Nominal
Cara Penanggulangan Cara penanggulangannya adalah dengan cara hidup sehat, istirahat cukup dan banyak berolah raga Benar = 1
Salah = 1 Nominal
Ibu usia 40 tahun ke atas Adalah ibu yang berusia 40 tahun ke atas dan telah mengalami gejala-gejala premenopause seperti ketidak aturan haid dan Hot Flusher Mengalami = Ya
Tidak mengalami = Tidak Nominal
TABEL 2
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN
TINGKAT PENDIDIKAN
Karakteristik Responden ∑ %
Tingkat Pendidikan SD (Tamat) - 0
SMP (Tamat) 5 25
SMU (Tamat) 12 60
Perguruan Tinggi 3 15
Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer, 2006
TABEL 3
PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG PENGERTIAN PREMENOPAUSE
No Pengetahuan Responden (N) %
1 Cukup 5 25
2 Kurang 15 75
Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer, 2006
TABEL 4
PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG GEJALA-GEJALA PREMENOPAUSE
No Pengetahuan Responden (N) %
1 Cukup 9 45
2 Kurang 11 55
Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer, 2006
TABEL 5
PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG CARA PENANGGULANGAN
No Pengetahuan Responden (N) %
1 Cukup 8 40
2 Kurang 12 60
Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer, 2006
Data di atas menunjukkan bahwa pendidikan formal terbanyak (tertinggi) para respondetingkat pengetahuan responden adalah SMU (60%). Ini berarti tingkat pengetahuan responden melalui pendidikan formal cukup baik yang dapat berpengaruh pada wawasan berfikir responden dan mampu menerima setiap informasi positif demi pengembangan diri kea rah yang lebih baik.
Pengetahuan responden tentang pengertian premenopause sebagian besar dalam kategori kurang (75%). Ketidaktahuan responden disebabkan karena tidak adanya atau kurangnya informasi yang diterima, mereka berfikir premenopause akan dialami oleh semua wanita, jadi tidak penting untuk diketahui.
Pengetahuan responden tentang gejala-gejala premenopause dalam kategori kurang (50%). Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat untuk mengetahui tentang gejala-gejala premenopause. Dan pengetahuan responden tentang cara penanggulangan perubahan-perubahan fisiologis yang dialami pada masa premenopause termasuk dalam kategori kurang (60%). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengetahui cara penanggulangan perubahan-perubahan pada masa premenopause. Ketidak tahuan mereka dapat disebabkan karena kurangnya informasi tentang cara penanggulangannya.
Berdasarkan semua data di atas, maka dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang pengertian premenopause berada dalam kategori kurang (75%). Menurut Brieger (1992), pengetahuan umumnya disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku atau surat kabar. Ini berarti kurangnya pengetahuan disebabkan oleh kurangnya informasi yang diterima. Berdasarkan karakteristik responden yang dilihat dari tingkat pendidikan, sebagian besar tingkat pendidikannya adalah SMU yang merupakan tingkat pendidikan formal, cukup baik yang dapat berpengaruh pada wawasan berfikir para responden, namun hasil penelitian tentang pengertian premenopause sebagian besar ibu kurang begitu tahu tentang masa premenopause. Hal ini juga dikarenakan oleh kurangnya minat untuk mengetahuinya.
Pengetahuan responden tentang gejala-gejala premenopause responden berada dalam kategori kurang (55%). Menurut Brieger (1992), pengetahuan umumnya dating dari pengalaman yang diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku-buku dan surat kabar. Ini berarti kurangnya pengetahuan responden disebabkan oleh kurang adanya informasi dari tenaga kesehatan kepada masyarakat tentang gejala-gejala premenopause, juga karena kurang adanya keinginan untuk mengetahui dimana mereka berfikir bahwa hal itu adalah alami yang akan dialami oleh setiap wanita.
Pengetahuan responden tentang perubahan-perubahan fisiologis pada masa premenopause berada pada kategori kurang (60%). Menurut Notoatmojo (1997), pengetahuan diperoleh dari berbagai hal, antara lain; pengalaman, ingatan dan kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan logika serta kebutuhan manusia. Ini berarti kurangnya pengetahuan responden tentang cara penanggulangannya disebabkan oleh karena responden merasa hal itu bukanlah kebutuhan. Bila dilihat dari tingkat pendidikan yang sebagian besar adalah SMU, jika mereka membutuhkan dan berminat untuk mengetahui cara penanggulangan perubahan-perubahan fisiologis pada masa premenopause akan sangat cepat dimengerti sehingga tidak ada rasa cemas dan kuatir dalam menghadapinya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian ini, ada beberapa yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pengetahuan responden tentang pengertian, gejala-gejala dan cara penanggulanagan premenopause sebagian besar termasuk dalam kategori kurang.
2. Sarana dan prasarana serta media informasi belum berhasil menyentuh hal-hal kecil yang dianggap sacral untuk diinformasikan.
Adapun saran yang dapat diberikan adalah :
1. Diharapkan agar tenaga kesehatan khususnya bidan untuk lebih meningkatkan pemberian informasi tentang pengertian, gejala-gela dan cara menanggulangi perubahan fisiologis pada masa premenopause baik dalam bentuk penyuluhan secara individu maupun kelompok.
2. diharapkan bagi setiap wanita, khususnya ibu-ibu yang akan menjalani masa premenopause untuk menjalani hidup sehat agar tidak timbul perasaan cemas dan khawatir dalam menghadapi perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada masa premenopause.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, 1998, Menajemen Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta
Buraerah, 2003, Diktat Metodologi Penelitian, Universitas Hasanuddin, Program studi Biostatika, Makassar.
Brieger, 1992, Pendidikan kesehatan Pedoman Pelayanan Kesehatan dasar, ITB, Bandung
Depkes RI, 1993, Asuhan Kebidanan Pada Ibu dengan Gangguan Sistim Reproduksi, Jakarta.
Levina, Pakasi, 2002, Menopause, Masalah dan penanggulangannya, Jakarta
Notoatmojo, 1993, Pendidikan dan perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmojo, 1997, Pengantar pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku, Andi Offset, Jakarta.
Reitz, 1993, Menopause suatu pendekatan, Rineka Cipta, Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
MY KLINIK © 2011 Theme made with the special support of Maiahost for their cheap WordPress hosting services and free support.